Select Menu

Template Information

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

WISATA ALAM

Berita

Wisata

IKLAN BARIS

CAFE

KULINER

BAKERY

TOUR AND TRAVEL

» » Jurusan Teknik Pertanian Instiper Gelar Workshop, Hermantoro : Pemanfaatan Alsintan Bantuan Kurang Optimal

PURWOREJO (info-jogja.com) - Semakin meningkatnya jumlah penduduk menuntut ketersediaan panagn yang juga selalu harus ditingkatkan. Sementara luas lahan persawahan menyempit karena alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman dan industri. Ketersediaan tenaga kerja yang mau bekerja disawah juga semakin berkurang, kalaupuan masih ada, sebagian besar sudah berusia lanjut.

Permasalahan tersebut  mendorong diterapkannya sistem pertanian  modern dalam usaha memproduksi beras, dengan mengaplikasikan peralatan dan mesin pada setiap tahap kegiatan produksi beras, mulai dari pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan sampai panen dan pengolahan pasca panen.

Pemerintah tak henti merangsang penggunaan alat mesin untuk menciptakan swasembada beras nasional. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya bantuan peralatan yang diberikan kepada masyarakat petani, baik berupa traktor, Transplanter, thresher, Combine Harvester dan Dryer (mesin pengering). Dalam kurun waktu 2010 sampai 2014 bantuan alat mesin yang diberikan pemerintah hanya mencapai 50.000 unit. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir pada tahun 2015 diberikan bantuan alat sebanyak 157.493 unit, tahun 2016 diberikan sebanyak 110.487 unit dan pada tahun 2017 meningkat sebanyak  321.000 unit atau meningkat sampai 600 % jika dihitung sejak tahun 2014.

Semakin banyaknya alat mesin pertanian untuk produksi beras yang diberikan kepada masyarakat petani diharapkan produktivitas beras akan  meningkat. Mengacu pada data Produksi Padi menurut Povinsi (2103-2017) yang dilansir dari laman Kementerian Pertanian (Kementan), jumlah produksi padi dari tahun 2014 hingga 2017 sebaimana dikutip Kementan dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pada tahun 2014 mencapai 70.846.465 ton, tahun 2015 sebanyak 75.397.841 ton, 2016 produksi padi nasional mencapai 79.354.767 ton, sedang 2017 mencapai 82,3 juta ton.

Berlangsungnya workshop Modernisasi Sistem Produksi Beras di Puworejo. Foto : Istimewa.
Berdasarkan data data tersebut memberikan gambaran bahwa peningkatan jumlah alsinta yang diberikan diiringi dengan peningkatan produksi beras. Namun sayangnya data produktivitas beras secara nasional sampai saat ini masih terjadi kesimpang siuran. Data dari Kementan kerap kali dipertanyakan keakuratannya, karena apa yang tertulis pada data tidak sesuai dengan realita di lapangan. Ketidak sinkronan data ini  seringkali memicu  permasalahan terkait ketersediaan stok beras nasional  untuk pengambilan keputusan harus impor beras atau tidak.

Modernisasi pertanian untuk produksi beras melalui penggunaan alsintan dari aspek ekonomi secara signifikan terbukti mampu meningkatkan produktivitas padi / beras dan pendapatan keluarga petani sehingga proses produksi beras bisa lebih efisien. Melalui penggunaan alsintan pada setiap tahap kegiatan produksi, panen dan pasca panen mampu menghemat biaya pengolahan tanah, biaya tanam, biaya penyiangan, dan biaya panen karena sebagian besar tenaga kerja sudah diganti oleh penggunaan alsintan yang jauh lebih efisien.

Berdasarkan informasi dari Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian, I Ketut Kariyasa bahwa Penggunaan traktor roda dua  dan roda empat, mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dari 20 orang menjadi 3 orang/ha, dan biaya pengolahan tanah menurun sekitar 28%, penggunaan rice transplanter mampu menghemat tenaga tanam dari 19 orang/ha menjadi 7 orang/ha sehingga biaya tanam menurun hingga 35%, serta mempercepat waktu tanam menjadi 6 jam/ha. Begitupula penggunaan Combined harvester mampu menghemat tenaga kerja dari 40 orang/ha menjadi 7,5 orang/ha dan menekan biaya panen hingga 30%.

Peserta Workshop. Foto : Istimewa
Akan tetapi sangat disayangkan, bantuan alat mesin pertanian dalam lima tahun terakhir meningkat sangat tajam namun disinyalir pemanfaatan alsintan tersebut belum optimal, hal ini disampaikan oleh Dr.Ir. Hermantoro MS dalam acara Workshop Modernisasi Sistem Produksi Beras di Puworejo, Jawa Tengah, baru-baru ini.

”Berbagai kendala  atau permasalahan terkait yang menyebabkan pemanfaatan alsintan kurang optimal antara lain: pengalokasian jenis, tipe alsintan kurang sesuai dengan kondisi spesifik lahan dan tidak tepat sasaran, proses seleksi penerima hibah alsintan belum memperhatikan tingkat kesiapan SDM dan kondisi kelembagaan Gapoktan serta terbatasnya jumlah tenaga pendamping maupun penyuluh yang cakap dan mempuyai kemampuan teknis pengoperasian Alsintan,”ungkap dia.

Workshop yang diadakan oleh Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Instiper Yogyakarta ini  dihadiri sekitar 30 orang dari berbagai instansi diantaranya Badan Ketahana Pangan dan Penyuluhan Propinsi DIY, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo,  Dinas Perindustrian, Dinas Pertanian Kabupaten Purworejo serta perwakilan sejumlah Gapoktan.

Pada kesempatan tersebut turut hadir narasumber Ir, Imam Rosadi selaku  produsen RMU Cimoni, menyampaikan tentang teknologi pengolahan pasca panen padi dari gabah menjadi beras dengan menggunakan Rice Milling Unit yang terpadu serta modern, dengan input berupa gabah kering giling akan dihasilkan beras dengan tiga kualitas beras yang sudah terpisahkan berupa beras kepala, beras pecah dan menir (pecah halus).

Pada akhir workshop dilanjutkan dengan mengunjungi dan menyaksikan Pembukaan dan Running Test  Rice Milling Unit yang menempati Gudang SRG di Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah.

Artikel ditulis oleh: Nuraeni Dwi Dharmawati

About Eko Purwono WK

WePress Theme is officially developed by Templatezy Team. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post