Select Menu

Template Information

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

WISATA ALAM

Berita

Wisata

IKLAN BARIS

CAFE

KULINER

BAKERY

TOUR AND TRAVEL

» » R Herianto Kurniawan SH MBA : Hormati Orang Tua

R Herianto Kurniawan SH MBA
SLEMAN (info-jogja.com) - Hari Ceng Beng atau Qing Ming (Hamzi) adalah suatu hari ziarah tajun bagi etnis Tionghoa.  Ceng Beng biasanya jatuh pada tanggal 5 April setiap tahunnya. Warga Tionghoa biasanya akan datang ke makam orang tua atau leluhur untuk membersihkan dan sekalian bersembahyang atau pai.

“Di makam tersebut sambil membawa buah- buahan, kue- kue, makanan serta karangan bunga. Setiap  di kubur pada atasnya disebarkan dan diletakkan kertas perak atau kuning setiap hari selasa dibersihkan,” jelas tokoh Tionghoa  asal Yogyakarta, Hoei R  Herianto Kurniawan SH MBA

Konon menurut cerita, lanjut pria yang akrab disapa Koh Bing, rakyat awal mula ziarah kubur atau Ceng Beng ini berawal dari kekaisaran Zhu Yuan Zhang pendiri Dinasti Ming ( 1368- 1644 Masehi )  Zhu Yuan Zhang awalnya berasal dari sebuah keluarga sangat miskin.

“Karena itu dalam membesarkan dan mendidik Zhu Yuan Zhang orangtuanya meminta bantuan kepada sebuah kuil. Ketika dewasa Zhu Yuan Zhang memutuskan untuk bergabung dengan pemberontakan sorban merah,”jelasnya.

Sebuah kelompok pemberontakan anti Dinasti Yuan atau Mongol, lantaran kecakapannya dalam waktu singkat ia telah mendapat posisi penting dalam kelompok tersebut, untuk kemudian menaklukan Dinasti Yuan pada 1272-1368 M

“Sampai akhirnya beliau menjadi seorang kaisar. Setelah menjadi kaisar Shu Yuan Zhang kembali ke desa untuk menjumpai orangtua, sesampainya di desa ternyata orangtuanya telah meninggal dunia dan tidak diketaui keberadaan makamnya,”ungkap pemilik Toko Mas Kranggan di Jalan Laksda Adisucipto Nomor 15 Yogyakarta.

Kemudian untuk mengetahui keberadaan makam orangtuanya, sebagai seorang kaisar Shu Yuan Zhang memberitahukan  kepada seluruh rakyatnya untuk melakukan ziarah dan pembersihan makam leluhur mereka masing- masing pada hari yang telah ditentukan.

Selain itu diperintahkan juga untuk menaruh kertas kuning di atas masing-masing makam yaitu berbagai tanda makam telah di bersihkan. Setelah rakyat selesai berziarah, kaisar memeriksa makam- makam yang ada di desa menemukan makam yang belum dibersihkan serta tidak diberi tanda.

Kemudian kaisar  menziarahi makam- makam dengan berasumsi bahwa diantara makam tersebut pastilah merupakan makam orangtua, sanak keluarga dan leluhurnya.

Hal ini kemudian dijadikan tradisi untuk setiap tahunnya. Tujuan dari Perayaan Ceng Beng ini sendiri adalah supaya semua kerabat dekat, saudara, anak- anak bisa berkumpul bersama, agar hubungan semakin erat terjalin meski sudah berbeda agama atau kepercayaan.

“Untuk datang ke kuburan orangtua karena akan dianggap berhala. Mestinya harus diingat juga, bahwa tanpa orangtua, kita yang masih hidup tidak mungkin bisa ada di dunia jadi jangan lupakan orangtua kita,”pinta dia.

Luangkanlah waktu karena Ceng Beng hanya setahun sekali. Adanya berpendapat juga. Huka pegang hio atau dupa tidak diperbolehkan bagi yang menganut agama tertentu hal ini tidak dijadikan masalah bisa sungkem saja. “Tapi menurut saya jika masih menganggap diri sebagai orang Tionghoa tentunya tidak masalah hanya untuk sekedar pegang hio,”tutur dia.

Koh Bing berpesan jangan terlalu fanatik, bukankah di dunia ini tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk tidak menghormati orangtua masing- masing.”Pesan ini buat generasi kita jaman old dan jaman now,”pungkasnya.

Penulis : Maryatun

About Eko Purwono

WePress Theme is officially developed by Templatezy Team. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post