Select Menu

Template Information

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

WISATA ALAM

Berita

Wisata

IKLAN BARIS

CAFE

KULINER

BAKERY

TOUR AND TRAVEL

» » » Peran Kolaborasi Perawat Dalam Mewujudkan Budaya Keselamatan Pasien

Pengertian Keselamatan Pasien di Rumah Sakit
Patient safety telah menjadi isu global yang paling penting. Kita dapat dengan mudah melaporkan tuntutan atas kejadian medical error. Keselamatan pasien atau patient safety merupakan sistem yang ada di rumah sakit yang membuat asuhan pasien yang lebih aman meliputi pengkajian resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan, dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan resiko dan mencegah cidera akibat kesalahan karena melaksanakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (Kemenkes, 2011). 

Jumlah Kejadian Medical Error Di Dunia dan Indonesia
Institute of medicine (IOM) di Amerika tahun 1999 melaporkan bahwa medical error merupakan salah satu penyebab kematian dan kesalahan terbesar. Jumlahnya adalah 44.000 sampai dengan 98.000 kasus kematian disebabkan oleh medical error di US Hospital setiap tahunnya. Angka kematian ini lebih tinggi dari pada angka kematian yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, kanker, dan HIV AIDS. Terdapat beberapa istilah dalam keselamatan pasien tentang insiden yang merupakan setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada pasien, terdiri dari KTD (kejadian tidak diharapkan), KNC (kejadian nyaris cidera), KTC (kejadian tidak cedera) dan KPC (kejadian potensial cedera). Menurut WHO 2004 angka kematian KTD dia amerika, inggris, denmark, dan australia memiliki rentang 3,2 – 16,6 %.

Di Indonesia sendiri data mengenai angka  kejadian tidak diharapkan  KTD atau  kejadian  nyaris  cedera  (Near  Miss)  masih  langka  (Depkes,  2008). Laporan  IKP  oleh  KKP-RS (Komite Keselamatan Pasien-Rumah  Sakit) di Indonesia pada  bulan  Januari-April  2011,  menemukan  bahwa  adanya  pelaporan  kasus  KTD  (14,41%) dan KNC  (18,53%)  yang disebabkan  karena proses atau prosedur klinik  (9,26 %), medikasi (9,26%),  dan  Pasien  jatuh  (5,15%). (KKP-RS. Laporan Insiden Keselamatan Pasien. Jakarta: Badan Pusat Statistik; 2011.)

Program Keselamatan Pasien di Dunia dan di Indonesia

    Kejadian di atas mengharuskan tenaga kesehatan di rumah sakit harus menjunjung budaya keselamatan / safety culture demi keselamatan pasien di rumah sakit.  Beberapa  upaya  membangun  budaya  keselamatan  pasien  pada  skala  internasional  dengan  membuat  kebijakan  terkait keselamatan  pasien  antara  lain  Joint  Commission  on  Accreditation  of  Healthcare Organization  (JCAHO) di Amerika, sejak 2007 menetapkan penilaian tahunan terhadap budaya keselamatan sebagai target  keselamatan pasien.  National Patient Safety Agency (NPSA)  di  Inggris  mencantumkan  budaya  keselamatan  sebagai  langkah  pertama dari”Seven Steps to Patient Safety” (Kachalia, 2013). Program keselamatan di Indonesia terdapat dalam PERMENKES No.1691/MENKES/PE/VIII/2011  tentang  keselamatan  pasien  rumah  sakit. 

Arti Budaya Keselamatan / Safety Culture   
    Budaya  keselamatan pasien dibangun dengan diubahnya pandangan blaming culture / budaya menyalahkan menjadi  safety  culture. Standart keselamatan pasien menjadi pendukung safety culture di rumah sakit. Standar keselamatan pasien tersebut terdiri dari tujuh standar meliputi hak pasien, mendidik pasien dan keluarga, keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan, penggunaan  metoda-metoda  peningkatan  kinerja  untuk  melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien, peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien, mendidik staf tentang keselamatan pasien, komunikasi  merupakan  kunci  bagi  staf  untuk  mencapai  keselamatan pasien.

Mendidik staf tentang keselamatan pasien menjadi point 6 dalam standart keselamatan pasien di RS. Kriteria standart keselamatan nomor 6 tersebut berisi 3 kriteria dengan salah satu kriterianya adalah setiap  rumah  sakit  harus  menyelenggarakan  pelatihan  tentang kerjasama  kelompok  / teamwork  guna  mendukung  pendekatan interdisipliner dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien. Upaya mencapai teamwork tersebutlah yang menjadi pokok dari masalah Rumah sakit. Jumlah pasien yang cukup banyak menjadikan tenaga kesehatan memiliki waktu yang sempit dalam memberikan asuhan kepada pasien. Tim kesehatan harus mampu memberikan asuhan yang terbaik bagi pasien dengan kolaborasi tim yang solid. Tiap tiap profesi kesehatan haru mampu menjadi promotor dalam kolaborasi pemberian asuhan, sehingga tiap profesi kesehatan harus mampu mempromosikan interdisiplinary round/kolaborasi. 

Peran Perawat Dalam Kolaborasi / Interdisiplinary Round Untuk Mewujudkan Budaya Keselamatan / Safety Culture
Dalam interdisiplinary round atau kolaborasi tim ini, posisi perawat diharapkan menjadi promotor karena perawat adalah tenaga kesehatan yang 24 jam berada disamping pasien. Perawat harus mampu berkolaborasi (menempatkan diri untuk dipimpin dan memimpin) diri yang mencakup menjaga prinsip autonomy  (hak pilihan) pasien, dan pemberi asuhan keperawatan / care giver yang merupakan tugas utamanya.

Penulis:
1. Dr. Elsye Maria Rosa (Pembimbing)
2. Ns. Naylil
3. Ns. Lunggung
4. Ns. Adi
5. Ns. Ratih

Magister Keperawatan UMY

img(c):klimg.com

About Info -Jogja.com

WePress Theme is officially developed by Templatezy Team. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post