Select Menu

Template Information

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

WISATA ALAM

Berita

Wisata

IKLAN BARIS

CAFE

KULINER

BAKERY

TOUR AND TRAVEL

» » » Pentingnya “Safety Attitude Culture” Perawat di Rumah Sakit


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, berdampak pada segala aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam bidang kesehatan. Informasi yang dimiliki masyarakat tentang berbagai berbagai masalah kesehatan dan cara penanganan serta pencegahannyapun dapat diakses dengan mudah dari media informasi yang jenisnya beragam, hanya dengan memilki ponsel cerdas serta jaringan internet masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan informasi kapanpun dan dimanapun mereka berada.

Paparan informasi kesehatan yang begitu tinggi dari media informasi ini, mau tidak mau mengharuskan tenaga kesehatan memiliki pengetahuan yang mempuni untuk menjawab pertanyaan masyarkat yang semakin hari semakin kritis. Sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di rumah sakit, mau tidak mau perawat harus mulai berbenah meng-upgread ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk dapat memberikan informasi yang tepat serta dapat menjadi patner untuk konsultasi pasien.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Svean H, et all ( 2012) tentang kepuasan pasien dengan konsultasi keperawatan di klinik reumatologi rawat jalan menunjukkan pasien yang mengalami inflammatory arthritides merasa puas dengan konsultasi yang di berikan oleh perawat di klinik rawat jalan tersebut. Penelitian ini menjadi salah satu bukti bahwa penting bagi perawat untuk memiliki pengetahuan yang tinggi sebagai salah satu cara meningkatkan kepuasan pasien.

Pengetahuan yang baik juga di butuhkan untuk mewujudkan Safety Atitute bagi profesi keperawatan. Safety Atitute ini penting untuk meningkatkan Patient Safety di rumah sakit. Telah banyak kasus yang menunjukkan terjadinya medical errors serta kejadian  infeksi yang didapat oleh pasien di rumah sakit yang disebabkan oleh kurangnya Safety Atitute yang dimilki oleh tenaga kesehatan termasuk perawat.

Data yang di terima oleh California Department of Public Health tahun 2015 melaporkan sekitar 19,847 kejadian infeksi terjadi di rumah sakit. Hasil surveillance menunjukkan penyakit terjadi karena infeksi infeksi di rumah sakit adalah  Clostridium difficile diarrheal infections (CDI), central line-associated bloodstream infections (CLABSI), bloodstream infections due to methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA-BSI), vancomycin-resistant enterococci (VRE-BSI), dan surgical site infections (SSI) yang meliputi 29 tipe prosedur pembedahan. Di Indonesia sendiri belum ada data yang di publikasi secara luas oleh dinas kesehatan ataupun kementerian kesehatan mengenai jumlah kejadian infeksi yang di dapatkan pasien saat berada di rumah sakit, baik itu karena prosedur operasi maupun tindakan infasive lainnya.

Dalam AMN Healthcare (2016) disebutkan ada 6 bentuk tindakan yang dapat dilakukan oleh perawat dalam mewujudkan Patient Safety di rumah sakit :

1.    Mendukung adanya Safety Culture di Rumah sakit
Budaya keselamatan pasien ini sangat penting bagi perawat dalam rangka memperbaiki medical error dan tindakan membahayakan lainnya untuk pasien, kita memang tidak bisa menghilangkan keselahan 100% dalam subuah tindakan, namun setidanya dengan membudayakan keselematan pada pasien ini, bisa meminimalkan adanya kejadian tidak diinginkan ataupun kejadian nyaris terjadi. Dibutuhkan komitmen bersama anatar tim kesehatan untuk mewujudkan Safety Culture ini, sehingga semua tim bertanggung jawab untuk memberikan keselamatan pada pasien di rumah sakit

2.    Komunikasi yang baik
Komunikasi yang baik yang dimaksudkan di sini adalah perawat harus dapat berbicara jika mereka mengamati sesuatu yang tidak aman akan terjadi pada pasien, peralatan tidak bekerja dengan baik ataupun saat membutuhkan bantuan untuk memindahkan pasien. Komunikasi yang baik juga di perlukan saat pergantian shift antar perawat, untuk memberikan informasi sejelas-jelasnya tentang kondisi pasien saat di operkan ke tim lainnya.

3.    Lakukan perawatan dasar dan ikuti checklist
Perawatan dasar adalah tindakan sederhana namun mulai jarang dilakukan, dikarena kesibukan perawat melakukan tindakan delegatif yang bukan merupakan tindakan mandiri keperawatan. Salah satu contoh tindakan perawatan dasar yang sederhana namun sangat bermanfaat adalah perawatan mulut yang dilakukan dengan baik dan sesuai prosedur dapat mengurangi resiko pneumonia.

4.    Libatkan pasien anda

Keluarga dan pasien harus dilibatkan dalam proses perawatan di rumah sakit, diajak diskusi tentang tentang proses keperawatan dan proses penyakit yang dialami, sehingga ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada pasien, keluarga diharapkan mampu memanggil bantuan secara cepat, selain itu jika pasien dan keluarga merasa perawatan yang diberikan tidak sesuai dengan kondisi pasien maka akan sangat penting bagi keluarga untuk melaporkan hal tersebut pada perawat. Hal tersebut akan membuat pasien menjadi nyaman

5.    Belajar dari insiden dan near misses
Menurut Rosemary Gibson yang juga seorang penulis utama Wall of Silence :The Untold Story (Kesalahan Medis itu membunuh dan melukai jutaan orang Amerika), dia mengatakan untuk mencegah kesalahan kita perlu memahami apa yang menyebabkan kesalahan itu terjadi. Gibson menyarakan harus dibuat diagram (diagram tulang ikan) untuk menganalisis penyebab masalah serta mengungkap semua fakta tentang incidence yang terjadi, untuk itu perawat perlu diberikan pelatihan untuk mempelajari peruses tersebut.

6.    Melibatkan diri
Perawat yang punya ketertarikan dalam Patient Safety harus melibatkan diri dalam organisasi rumah sakit yang ada hubungannya dengan itu, sehingga dapat membantu mengontrol adanya insiden atau kejadian near misses yang ada di rumah sakit.

Berdasarkan hal tersebut diatasa perawat sebagai populasi terbanyak dan menjadi garda terdepan dalam berhadapan dengan pasien, harus terus belajar tentang standar keselamatan pasien di rumah sakit , tidak hanya itu pihak managemen rumah sakit juga harus menjadikan safety atitute tersebut menjadi safety culture di lingkungan rumah sakit, agar keselamatan pasien dapat terjaga dan terjamin sampai keluar dari rumah sakit.

Penulis:
1. Dr. Elsye Maria Rosa (Pembimbing)
2. Ns. Chily
3. Ns. Ikhe
4. Ns. Ida
5. Ns.Ferdi

Magister Keperawatan UMY

img(c):klimg.com

About Info -Jogja.com

WePress Theme is officially developed by Templatezy Team. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post