Select Menu

Template Information

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

WISATA ALAM

Berita

Wisata

IKLAN BARIS

CAFE

KULINER

BAKERY

TOUR AND TRAVEL

» » » Munas LDII Ke - 8 Bahas Masalah Mendasar SDM Indonesia

Musyawarah Nasional (Munas) ke-8 Lembaga  Dakwah Islam Indonesia (LDII) 
JAKARTA (info-jogja.com) -Lembaga  Dakwah Islam Indonesia (LDII) telah menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-8 di Balai Kartini Jakarta pada 8-10 November lalu. Munas dihadiri oleh 1.500 alim ulama, pengurus pesantren, jajaran pengurus DPP LDII, Ketua dan Sekretaris DPW serta Ketua DPD Kota/Kabupaten se-Indonesia.

Kamis (17/11/2016) munas VIII LDII memutuskan secara aklamasi untuk memilih kembali Prof. Dr. Ir. K.H. Abdullah Syam, M.Sc. sebagai Ketua Umum DPP LDII Periode 2016-2021. Bagi LDII, Munas bukan hanya persoalan memilih ketua baru dan mendengarkan pertanggungjawaban berbagai program masa bakti yang lalu.

 “Munas LDII merupakan cermin dari kegiatan yang sudah dilaksanakan dan arah organisasi ke depan. Kami berusaha memahami problematika bangsa, lalu mencarikan jalan keluar, baik dari sisi tema maupun implementasinya dalam bentuk gerakan,” jelas Ketua Panitia Pengarah Munas LDII, Prasetyo Sunaryo.

Hal ini tercermin dari munas paperless yang pertama yang dilakukan oleh ormas Islam. Munas tanpa kertas merupakan wujud gerakan Go Green LDII sejak 2008 lalu, yang berhasil menanam 3,7 juta pohon. Munas yang bebas kertas ini mendapat apresiasi dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin,
 “Munas tanpa kertas seharusnya juga ditiru ormas lainnya. Selain hemat, hal ini merupakan wujud kepedulian lingkungan,”papar Lukman Hakim.

Pada Munas ke-8, LDII mengangkat tema “Keniscayaan Peningkatan Kualitas SDM, Kemampuan Pendayagunaan Teknologi Digital, dan Pengembangan Ekonomi Syariah untuk Pembangunan Indonesia Berkelanjutan”. Tema ini menjadi motor gerakan LDII dalam lima tahun ke depan, setelah sukses menjalankan program membangun manusia yang profesional religius.

Dalam rangka peningkatan SDM, LDII meluncurkan Gerakan Menghormati Guru. Guru dalam konsep ini adalah para pengajar, baik guru, dosen, maupun para mubaligh dan mubalighot. Sementara untuk pendayagunaan teknologi digital, LDII melansir e-commerce berkonsep marketplace, pikub.co.id dan pikub.com. Boleh dikata inilah e-commerce pertama yang menggunakan sistem syariah.

“Di sisi ekonomi syariah, LDII terus mendorong penguatan kerja sama UMKM di Asia Tenggara dan memperkuat permodalam bagi UMKM. Bentuk nyatanya, kami mendorong DPD membentuk Baitul Mal Watanwil, semacam koperasi simpan pinjam berbasis syariah,” ujar Wakil Ketua Panitia Pengarah Munas LDII, Chriswanto Santoso.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam kesempatan itu mengapresiasi Gerakan Menghormati Guru, karena mampu memperkokoh pilar bangsa. Menghormati guru pada hakekatnya adalah upaya peningkatan kualitas SDM. Lukman Hakim juga sangat mewanti-wanti jangan sampai kondisi kekinian mengubah nilai kebajikan menggantikan guru dengan media sosial seperti facebook dan twitter

. “Keberadaan guru dan orang tua luar biasa dalam mentransformasikan nilai-nilai kebajikan. Sedangkan saat ini yang mentransformasikan nilai-nilai landasan mereka adalah Facebook, Twitter dan semua sosial media yang ada,” ujar Lukman Hakim.

Lukman prihatin dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini, “Masyarakat tidak lagi menjadikan ulama dan kyai sebagai rujukan.  Generasi muda menganut Majelis Al-Facebookiyah dan Kanjeng Google. Kita tidak punya cukup waktu lagi untuk sekedar bertanya kepada pengunggah informasi memiliki otoritas ataukah tidak,” ujar Lukman Hakim. Ia bersyukur LDII menggelar Gerakan Menghormati Guru untuk mengembalikan marwah guru sebagai panutan.

Pada hari ke-2, Presiden Joko Widodo berkenan hadir dan memberikan pembekalan kepada 1.500 peserta Munas LDII. Sebelum memberikan pengarahan, Jokowi menyaksikan pemutaran film kampanye Gerakan Menghormati Guru yang di media sosial dapat diikuti melalui Youtube dengan judul #gerakanmenghormatiguru.

Jokowi sepakat dengan LDII bahwa dengan menghormati guru, bangsa Indonesia mendapat solusi yang mendasar dalam persoalan meningkatkan kualitas SDM.

“Saya sangat setuju dengan apa yang diungkapkan oleh Pak Abdullah Syam mengenai gerakan menghormati guru. Ini bentuk kita kembali pada karakter kita, karakter bangsa. Saya nanti akan bisikkan pada Mendikbud bahwa ini akan menjadi gerakan nasional kita,” ujar Jokowi.

Jokowi mencontohkan negara dengan perkembangan teknologi pesat seperti Jepang dan Korea Selatan. Namun, kedua negara itu masih memegang teguh nilai-nilai luhur, terutama budi pekerti. Indonesia juga punya budaya seperti ini, tapi perlahan luntur.


 "Kita dulu juga punya. Tahun 70-an dengan yang lebih senior pasti nunduk, kalau lewat pasti begini (menunduk). Kenapa itu?" tanya Jokowi, sambil menunduk tanda hormat. Jokowi pun teringat semasa di bangku SD. Anak-anak sudah sibuk berbaris di depan sekolah, meski guru masih jauh dari sekolah. Siswa berebut bersalaman dan ingin membantu guru meletakkan sepeda yang ditunggangi atau membawakan tas.


 "Inilah, kita kehilangan karakter itu. Padahal namanya Jepang, negara dengan teknologi kemajuan sangat tinggi, masih memegang itu," kata dia.

Melihat gerakan yang baik ini, Jokowi akan berbicara dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Dia ingin langkah LDII ini menjadi gerakan nasional. "Saya nanti akan bisikan kepada Mendikbud, ini akan jadi gerakan nasional kita. Kalau enggak kita akan lupa hal-hal yang sangat mendasar, karakter bangsa kita," pungkas Jokowi.

Menanggapi launching pikub.co.id, Jokowi mengungkapkan akan mendukungnya menjadi platform nasional. “Jangan salah, sekarang ada Alibaba. Mereka punya logistic platform yang merajai di mana-mana. Kenapa kita tidak memiliki yang seperti itu. Kalau ada retail platform milik kita sendiri malah dijual kemana-mana. Saya sedih kalau yang bagus dicaplok oleh asing, saya mau suntik jadi bingung. Maka sebaiknya kami suntik yang tadi, pikub.co.id jadi platform nasional,” ujar Jokowi.

Berbicara pendayagunaan media sosial yang tidak sesuai pada tempatnya. Jokowi menilai ini bukan kepribadian bangsa Indonesia. “Coba kita lihat sekarang, saling menghujat, mengejek, memaki, dan menjelekkan. Apakah itu kepribadian bangsa kita? Budi pekerti yang ditanamkan? Ini adalah infiltrasi media sosial yang tidak kita sadari dan kita saring,” ungkap Jokowi.

Usai memberikan sambutan, kunjungan Jokowi di Munas ke-8 LDII ditutup dengan penandatangan Wall of Fame Gerakan Menghormati Guru dan Gerakan Etika Media Sosial yang sehari sebelumnya telah ditandatangani pula oleh Menteri Agama H. Lukman Hakim Saifuddin. 

Selain Presiden Joko Widodo dan Menteri Agama, sederet tokoh dan pejabat hadir memberikan materi, antara lain: Menteri Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Dharmawan Hadad, anggota DPR Komisi II dari PDIP Budiman Sudjatmiko.

Tampak hadir pula  Direktur E-Government Ditjen Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Herry Abdul Aziz, Staf Ahli Menteri Dalam Negeri Bidang Pemerintahan Suhajar Diantoro,  Direktur Pemberdayaan Alternatif BNN Fathur Rahman, Ketua Kwarnas Pramuka Adhyaksa Dault, dan Kepala Bidang Radio, TV, dan Film Pusat Informasi dan Komunikasi Kemendikbud Sri Hargyanto Suryaprayuda.

Rekomendasi Munas VIII LDII

Munas VIII LDII melahirkan rekomendasi yang bertajuk “Membangun Jatidiri Bangsa di Era Globalisasi”. Pokok-pokok pikiran dalam rekomendasi ini di antaranya Bangsa Indonesia dan negara harus mampu memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai imbas dari globalisasi.

Pada titik tersebut LDII berpandangan bahwa nilai-nilai yang tidak boleh berubah oleh tekanan globalisasi adalah nilai-nilai moral berbasis ajaran agama, baik yang berdimensi universal maupun yang berdimensi khusus dan nilai-nilai pembentuk jati diri bangsa yang telah terkristal dalam Pancasila.

Kemampuan seseorang untuk tetap menegakkan nilai moral seperti kejujuran dan kemampuan mengemban amanah, tidak boleh tererosi oleh tekanan arus globalisasi apapun bentuk tekanannya serta mampu untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam berbagai aktivitas kehidupan agar jati diri bangsa dapat terjaga secara berkelanjutan.

LDII juga meminta pemerintah mengantisipasi pertumbuhan penduduk Indonesia yang mencapai 345 juta orang pada 2030 dan 8,5 miliar penduduk dunia pada 2030.  Pertumbuhan jumlah penduduk bagi LDII harus disikapi dengan upaya peningkatan kualitas SDM Indonesia melalui terwujudnya proses pendidikan yang memadai, baik formal maupun informal yang sesuai dengan perkembangan dan tuntutan kebutuhan zaman.

Kualitas SDM yang mampu menjaga jati diri bangsa sekaligus menegakkan nilai moral sebagai hasil proses pendidikan diharapkan mempunyai kualifikasi profesionalitas dan religiusitas yang memadai.

Keadaan ini dicapai tatkala dapat terwujud iklim pendidikan yang memadai dengan intinya adalah tersedianya guru yang berkualitas. Untuk upaya peningkatan kualitas guru secara berkesinambungan dan berkelanjutan yang sesuai dengan perkembangan zaman, maka LDII mengajak agar seluruh jajaran masyarakat dapat dan mampu menghormati dan menghargai para unsur pendidik yang terdiri dari para guru, para ustadz, kyai, ulama dan para penyampai ilmu lainnya.

Apabila masyarakat berkemampuan menghormati para guru, maka iklim pendidikan akan kondusif sebagai suatu proses pemindahan ilmu dan pembentukan karakter pada peserta didik, yang pada gilirannya akan dapat menghasilkan kapasitas profesionalitas dan religiusitas yang memadai.

Penulis : Eko/Mar/Tim

About Eko Purwono

WePress Theme is officially developed by Templatezy Team. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post