Select Menu

Template Information

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

WISATA ALAM

Berita

Wisata

IKLAN BARIS

CAFE

KULINER

BAKERY

TOUR AND TRAVEL

» » » » » » » Terjadi Distorsi Mafia Migas Di Indonesia

Diskusi Perekonomian Indonesia yang bertemakan "Membangun Industri Berbasis Sumber Daya Alam", di Audiotorium Kampus 3 UAJY
SLEMAN (info-jogja.com) - Industri Minyak dan Gas (Migas) merupakan salah satu Sumber Daya Alam (SDA) strategis yang tidak terbarukan, dan menyumbang 30% penerimaan negara, terbesar kedua setelah pajak.

Industri Migas merupakan komoditas hajat hidup orang banyak dan berperan penting dalam perekonomian nasional. Membahas isu penting itu  Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) gelar  Diskusi Perekonomian Indonesia yang bertemakan "Membangun Industri Berbasis Sumber Daya Alam", di Audiotorium Kampus 3 Universitas Atma Jaya YogyakartaSelasa (20/9/2016).

Hadir sebagai  pembicaraDosen Departemen Ekonomika Terapan dan Bisnis UGM  Dr. Fahmy Radhi, MBA., Ph.D. dengan moderator Aloysius Gunadi Brata, SE., M.SI .

Diskusi yang  diikuti  80 mahasiswa ini membahas  Distorsi Mafia pada Industri Minyak dan Gas (Migas) di Indonesia. Mafia Migas sendiri adalah individu dan/atau kelompok yang memburu rente dengan memanfaatkan kelemahan tata kelola dan kedekatan dengan penguasa, sehingga berdampak pada tidak optimalnya produksi Migas, inefisiensi dan ekonomi biaya tinggi pada penyediaan BBM dan mata rantai supply migas.

Fahmy menjelaskan, tantangan Industri Migas di Indonesia di antaranya adalah peredaran yang mengarah ke kawasan timur Indonesia, lebih banyak ke arah lepas pantai dan laut dalam, serta industri yang didominasi oleh gas.

"Mahalnya harga gas berdampak pada biaya produksi industri pengguna gas menjadi tinggi, yang berujung harga jual produk bahan baku gas menjadi mahal. Naiknya harga barang-barang tersebut otomatis memberatkan konsumen dan produk ekspor kalah bersain," jelasnya.

Indikasi Praktik Mafia Migas di Hilir, Fahmy menambahkan, tidak kunjung dibangunnya kilang minyak  di dalam negeri yang menyebabkan Indonesia semakin tergantung pada impor minyak, disebut sebagai ulah mafia. Selain itu, tidak transparasi dalam penetapan harga Pokok Penjualan BBM Bersubsidi mengindikasikan adanya mark-up oleh pemburu rente (“rent-seeking”).

Terakhir, perlunya reformasi mengenai tata kelola migas untuk menutup celah bagi masuknya mafia migas dan menuangkan tata kelola tersebut ke dalam UU dan Peraturan Perundangan, serta Penguatan Kepemimpinan menjadi hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia agar mafia migas dapat berkurang lagi dan lagi sehingga kedepannya negara Indonesia bisa bebas dari mafia migas.

Penulis  : Eko Purwono

About Eko Purwono

WePress Theme is officially developed by Templatezy Team. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post