Select Menu

Template Information

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

WISATA ALAM

Berita

Wisata

IKLAN BARIS

CAFE

KULINER

BAKERY

TOUR AND TRAVEL

» » Banyunibo, Eksotisme 12 Air Terjun

Air terjun Banyunibo memang tidak sefamilier air terjun Grojogan Sewu di Tamangmangu Karang Anyar Jawa Tengah. Namun soal keindahan alam yang ditawarkan Banyu Nibo tidak kalah menariknya. Apalagi Banyu Nibo memiliki 12 air terjun dilengkapi 16 kedung yang berupa cekungan-cekungan alami memiliki nama yang masing-masing memiliki sejarah tersendiri.

Gemercik air terjun menari membelah pagi. Sepoi angin mengoda insan yang tengah menikmati segelas kopi. Pagi itu pun terasa lebih hangat dengan menikmati senyuman sunrice di atas air terjun. Sementara itu langkah-langkah kaki petani terasa bagai alunan musik tradisional yang selalu menggalun tiap harinya. Dimana sesekali beberapa ekor elang menari di atas cakrawala.

Menggunjungi air terjun Banyu Nibo seakan kita dibawa ke alam bawah sadar. Suasana perkampungan yang masih benar-benar alami dengan diselimuti kabut seakan membawa kita ke surgawi dunia. Yah, berkunjung ke wisata alam Banyu Nibo di pagi hari memang lebih menantang serta mengasyikan. Di mana kita akan dapat merasakan suasana yang benar-benar nyaman. Sehingga rasa penat setelah menjalankan rutinitas keseharian akan sirna dengan sendirinya.

Air terjun Banyu Nibo yang terletak di Rejosari Terong Dlingo Bantul DIY, memang layak dijadikan tempat melepas rasa penat. Apalagi suasana pedesaan yang asri dengan landscape-nya yang lain dibanding wisata alam lainnya, Banyu Nibo tidak hanya menawarkan sekedar aliran air yang jatuh diantara bebatuan raksasa.

Menikmati air terjun Banyu Nibo, walau debit air tidak sedahsyat di musim penghujan, seakan membawa kita dalam satu kesatuan antara alam dengan mahluk hidup dan habitat di sekitarnya. Dengan panorama alam yang terbentang hijau di atas pengunungan seribu di kejauhan kita disadarkan bahwa kita harus selalu mensyukuri nikmat alamNya.

Yah, Banyu Nibo dengan segala seluk beluk dan sejarahnya tidak hanya sekadar menawarkan keindahan alam namun juga menyadarkan kita akan tingkah laku manusia. Seperti tersirat dalam nama kedung maling. Dimana kedung ini dulunya merupakan tempat membuang barang bukti pencurian dan menghilangnya pelaku pencurian hingga perampokan.

Wisata alam yang memiliki 12 air terjun dengan 16 kedung atau cekungan penampungan air alami sebenarnya tidak hanya cocok dikunjungi dalam suasana pagi. Suasana alamnya yang belun tersentuh tangan-tangan jahil menarik untuk dikunjungi ketika matahari menebarkan sinarnya hingga mulai menghilang diufuknya. Karena pandangan kita bebas lepas memandang jauh rindangnya alam juga bisa menapaki satu persatu air terjun dan kedung yang ada.

Saat Kemarau
Sebagai wahana wisata alam yang masih tergolong baru, Banyu Nibo ibarat gadis yang masih benar-benar polos. Semuanya masih serba alami. Sehingga sangat perlu polesan di sana sini. Namun begitu justru kealamian ini merupakan keunggulan serta keistimewaan tersendiri yang disuguhkan Banyu Nibo.

Selain menawarkan air terjun, di wisata alam Banyu Nibo setiap wisatawan juga ditawari keselarasan warga Rejosari dalam mengelola alamnya. Lebih dari itu pengunjung juga akan disuguhi berbagai atraksi seni dan budaya. Namun akan lengkap dan menarik bila saat panen tiba. Mengingat potensi pertanian dan perkebunan yang sangat tinggi dan 80% penduduknya menjadi petani.

12 Nama Air Terjun, 16 Kedung Dengan Nama yang Bersejarah

Menurut ketua Pokdarwis Rejosari, Sagiyo, obyek wisata alam air terjun Banyu Nibo memiliki air terjun mini hingga air terjun besar  dengan tinggi sekitar 30 meter. Dimana masing-masing air terjun yang dibawahnya terdapat kedung yang memiliki nama berbeda. Tergantung dari sejarah pengunaan kedung di masa nenek moyang mereka.

Dan keunikan nama di mana  setiap air  yang jatuh ada cekungannya/kedung,(tandon air alami) dengan kedalaman variatif  1 meter s/d 3 meter ini, memiliki riwayat yang berbeda. Kedung yang pertama bernama Kedung Gepeng (Guyangan). Kedung ini merupakan sungai Sapit Urang yang panjangnya lebih dari 40 meter, tahun 1973 di bangun waduk mini untuk pengairan sawah-sawah lembah dan perbukitan Rejekan, konon dari cerita penduduk yang telah turun temurun hingga menjadi cerita rakyat (zaman Mataram Kuno) dahulunya merupakan tempat  untuk memandikan kerbau, sapi atau ternak.

Kedung kedua Kedung  Pengaron, merupakan kedung yang agak bulat mirip pengaron (gerabah yang terbuat dari tanah liat ) keberadaanya memiliki kedalaman 1 meter lebih. Berikutnya Kedung Balong, nama kedung ini diambil dari nama orang yang pernah di kejar  warga yang membawa  hewan yang bukan miliknya. Kedung berkedalaman 1,6 meter.

Selanjutnya ada Kedung  Endas, konon awalnya kedung ini untuk membuang kepala  kerbau  hasil kejahatan. Namun lama kelamaan orang yang mencuri dan membuang kepala kemudian Dia ketangkap pemiliknya. Kedung ini  berkedalaman 1,5- s/d 2 meter.

Kedung yang memiliki kedalaman hingga 2 mter ini, dinamaka kedung Maling. Disebut kedung maling karena dukunya merupakan lokasi dipakai untuk menghilangkan barang bukti hasil kejahatan serta menghilangnya orang jahat dengan cara menyelam, menuju arus deras kebawah, kedalaman  1,5 s/d  2 meter.

Kedung Maling, nama ini bermula dari seseorang bernama Balong  yang membawa kerbau milik petani saat pemiliknya menambatkannya di kedung Gepeng, ketika usai dan akan di mandikan, tetapi Balong sudah membuat setrategi akan menuntun hewan tersebut, tetapi aksinya ketahuan  sehingga  kerbau yang di bawanya di lepas. Di sekitar Kedung-Kedung ini di pakai untuk event wisata mancing dan mencari ikan (Tawu) secara berombongan.

 “Selain kedung-kedung di atas ada lagi Kedung Lesung. Air terjun ini memiliki ketinggian 2 meter, bila dipukul air terjunnya memiliki suara seperti  bunyi lesung, dengan bentuknya yang kecil dan panjang seperti lesung. Kedung lainya, Kedung Bulu, merupakan, kedung yang lebar, dahulunya dekat dan di tumbuhi pohon bulu kedalaman 1 s/d 2 meter” ungkap Sagiyo.

Ada juga Kedung  Menjalin. Nama ini di ambil dari para pencuri  yang sering menjalin hubungan antar pencuri dalam membuat /menyusun setrategi  untuk melakukan aksi mencuri. Kemudian ada pula kedung atau grojogan Manci. Kedung yang memiliki ketinggian 8 meter dibawahnya merupakan mirip sebuah Panci, yang  berisi air dan sering di ambil para pencuri dengan alat panci.

Kedung yang menyerupai kuda atau bahasa jawanya Jaran.  Dulunya dinding sebelah utara  di tumbuh lumut besar yang menyerupai kuda/jaran, sehingga keberadaan lumut unik  itu seolah  juga sebagai pertanda  yang  baik bagi para petani dalam menggarap pertanian. Seiring gundulnya hutan Rejosari maka lumut tersebut kini sudah tiada. Air terjun/pemandian Moto 2, Lokasi di atas air terjun Banyu  Nibo, air terjun Moto 2 memiliki khas yang mirip lubang mata 2 yang kedalaman 5-8 meter.

Air terjun Banyunibo atau Grojogan Banyunibo, merupakan air terjun utama dan terdalam serta tertinggi karena dari dasar s/d puncaknya sekitar 30 meter. Setelah mengunjungi air terjun Banyu Nibo. Kita dapat melihat air terjun Sapit Urang, yang berlokasi di bawah Banyu Nibo dengan ketinggian 6-8 meter, Di sebut Air terjun Sapit Urang, karena dahulu di sekitar lokasi banyak di temukan ikan udang/Urang.

Tidak puas rasanya bila tidak melihat Kretek Watu. Kretek Watu ini merupakan  jembatan alami dari batu hitam yang di bawahnya sungai dan di atasnya  di lewati para petani untuk membawa rumput, konon juga di pakai oleh orang yang akan bertapa menuju hutan dan kawasan air terjun Banyu Nibo. Di kawasan sungai ini banyak di temukan batu-batu gudik (hitam kasar) yang menarik. Pasca gempa bumi 2006 batu-batunya saling berhimpitan sehingga Kretek Watu sudah berubah.

Jauh di bawah kretek watu, Anda akan disuguhi keudung Pace, yang mana di sekitarnya banyaka pohon pace. Menurut cerita turun temurun pada zaman dahulu ketika ada orang masuk di sekitar kawasan Banyu Nibo, apabila miliki niat jahat, dan dia menjalankannya bisa tertangkap, sehingga di kedung ini  di percayai  sebagai pertanda  pahit sesuai daun pace yang pahit.

Dan yang terakhir disebut Kedung Kawuk,  konon juga memiliki cerita yang  cukup unik  karena zaman dahulu kedung  terlihat banyak ikan tetapi setelah  kedung itu di di kuras (tawu) ikannya justru menghilang atau bahkan tidak ada yang tertangkap.

Selain potensi air terjun Banyu Nibo yang memiliki cerita unik, di atas kawasan air terjun  yang jaraknya sekitar 700 meter dari Bukit Patuk Gunung Kidul, juga  terdapat areal pertanian milik pemerintah Desa Terong/tanah Kas Desa dan sebagian milik penduduk. Di lokasi pertanian ini biasanya dipakai study hasil pertanian para pelajar dan para mahasiswa.

Untuk menuju lokasi wahana wisata Banyu Nibo dapat ditempuh melalui dua jalur. Yang pertama jalan Wonosari. Setelah perempatan Patuk ke kanan atau selatan menuju Dlingo dengan jarak 7 km. Sedangkan bila melewati jalur Pleret Bantul jarak yang tempuh hanya sekitar 5 km tetapi dengan jalan menanjak dan berkelok” pungkasnya. (anjar)  


About Info -Jogja.com

WePress Theme is officially developed by Templatezy Team. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post