Select Menu

Template Information

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

WISATA ALAM

Berita

Wisata

IKLAN BARIS

CAFE

KULINER

BAKERY

TOUR AND TRAVEL

SLEMAN (info-jogja.com) – Guna mendorong partisipasi masyarakat terlibat aktif dalam pengawasan Pemilu 2019, Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kecamatan Tempel menggelar rapat koordinasi (Rakor) dengan melibatkan puluhan komunitas relawan, Rabu (6/12/2018) siang di joglo Taman Seloijayan Karanggawang, Mororejo Tempel.


Ketua Panwaslu Tempel Utma Masniyati Saniya mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mendorong partisipasi masyarakat berperan dalam pengawasan pemilu, salah satu upaya dilakukan melalui perekrutan relawan pengawas Pemilu, seperti  telah diamanatkan dalam pasal 104 huruf f UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu  yakni mengembangkan pengawasan Pemilu partisipatif.


”Kali ini kita libatkan unsur dari rekan relawan, diantaranya Tagana Sleman, IKKJ, PMI Tempel, JME dan delapan ketua karangtaruna se kecamatan tempel, selanjutnya akan kita rekrut sebagai relawan pengawas,”terang Utma.

Melalui kegiatan ini, ia berharap akan memberikan pemahaman tentang pengawasan pemilu sehingga relawan mengetahui mengetahui jenis-jenis pelanggaran pada setiap tahapan hingga pencoblosan pada 17 April 2019 mendatang.


”Dengan memahami pelangaran pemilu diharapkan dapat ditempuh langkah antisipasi guna menekan terjadinya pelanggaran, kami berharap kepada relawan yang hadir di acara ini untuk menyampaikan kepada masyarakat luas, sehingga terwujud pemilu yang berintegritas”ajaknya.

Salah satu peserta, Dwi Iswanto dari perwakilan komunitas JME mengaku bangga dapat terlibat dalam relawan pengawasan.”Ya bisa menambah wawasan berkaitan pemilu,”ungkapnya.(Redaksi)
 


YOGYAKARTA (info- jogja.com) - Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Energi Sumber Daya Mineral (PUP- ESDM) DIY peringati Hari Bakti PU Ke- 73, kegiatan ditandai dengan upacara bendera di halaman kantor dinas PUP- ESDM DIY di Jl. Bumijo Yogyakarta, Senin (3/12/2018).

Bertindak sebagai Inspektur upacara Sekda DIY, Ir Gatot Saptadi sekaligus membacakan sambutan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ( PUPR) M Basuki Hadimulyono. Isi sambutan mengajak jajaran PU untuk meningkatkan kompetensi dan integritas, jujur, konsisten dan tegas dalam menjalankan aturan.

Menteri mengungkapkan pada akhir tahun 2018 ini sejumlah program telah kita laksanakan dengan baik. Pada tahun 2019 PUPR diberi alokasi anggaran Rp 110,7 triliun.

Dengan program harus mendukung visi penguatan SDM dan perekonomian masyarakat melalui pembangunan beragam infrastruktur. Untuk merealisasikannya PUPR wajib meningkatkan kompetensi dan tegas menjalankan aturan.

”Namun tetap harus berhati-hati dan lebih bertanggungjawab atas setiap kebijakan dan langkah yang diambil, sebagai bentuk kehadiran pemerintah dan upaya mempersatukam bangsa,”sebut Gatot saat membacakan sambutan menteri.

Jajaran PU diajak terus melakukan terobosan baru dan lompatan serta ide- ide kreatif yang  harus terus dimunculkan supaya mampu bersaing di negara- negara tetangga. Percepatan pembangunan infrastruktur hanya dapat dilakukan melalui visi dan dukungan tehnologi modern demi terwujudnya infrastruktur berkualitas secara lebih cepat dan lebih murah.

“Kita harus senantiasa meningkatkan kerjasama dan kekompakan dalam menyelesaikam infrastruktur yang merata di seluruh pelosok wilayah Indonesia. (Maryatun)

-


SLEMAN ( info- jogja.com) -  Menyambut HUT ke- 57 PT Bank BPD DIY mengelar aksi donor darah dengan  mengandeng  Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Yogyakarta  melibatkan jajaran managemen, karyawan Bank BPD DIY serta masyarakat umum di Atrium Jogja City Mall (JCM), baru-baru ini.

Event ini merupakan kegiatan kemanusian  berupa bakti sosial Bank BPD DIY kepada masyarakat, darah  yang didonorkan  akan dikelola oleh UDD PMI Kota Yogyakarta, sebagai persediaan dan nantinya akan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkannya.

Direktur Utama Bank BPD DIY, Santoso Rohmad dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan donor darah ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan  setiap tahun, bersamaan rangkaian acara HUT. Pihaknya menyampaikan terima kasih kepada jajaran PMI DIY dan PMI Kota Yogyakarta, yang selalu mensuport dan bersedia membantu terlaksananya kegiatan donor darah.

”Kami  apresiasi  kepada seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi mendonorkan darahnya, kita targetkan 800 kantong darah pada kegiatan ini,”tutur Rohmad.

Sementara itu Ketua PMI DIY GBPH Prabukusumo menyampaikan apresiasinya kepada Bank BPD DIY atas kepedulian kepada masyarakat.“Kami apresiasi kepedulian Bank BPD DIY dan terima kasih atas kerjasama yang baik dengan PMI khususnya dalam hal penggalangan donor darah,”ucapnya. (Maryatun)

SLEMAN (info-jogja.com) – Peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-73 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) RI di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Yogyakarta terasa spesial. Pasalnya Bapas Yogyakarta baru saja memperoleh penghargaan atas prestasi dalam menginisiasi inovasi berupa 11 program unggulan di Rumah Kreatif Bapas Jogja (RKBJ).

Penghargaan kategori Karya Dhika Madya. Foto : Istimewa
Yang lebih membanggakan lagi, penghargaan melalui keputusan Menteri Hukum dan HAM bernomor M.HH.22.KP.08.05 tahun 2018  juga disematkan dengan telah diluncurkanya layanan berbasis IT yang dinamai Si-Bango (sistem informasi Balai Ngayogyakarta).


                                       
“Si-Bango dapat diakses secara offline dilayanan pengunjung maupun secara online, sedangkan kita juga punya 11 program unggulan di RKBJ. Ini merupakan kerja nyata dari Bapas Jogja yang berkontribusi langsung kepada pelayanan publik, untuk klien pemasyarakatan dan masyarakat umum,”terang Kepala Bapas Jogja Muhammad Ali Syeh Banna usai upacara HUT hari Dharma Karya Dhika, Selasa (30/10/2018) di kantor setempat.

Ali Syeh Banna mengapresiasi atas kinerja seluruh pegawai dalam berjuang di pemasyarakatan sebagai upaya membangun SDM yang lebih baik.”Kita harus berkarya dan berkarya lagi, dengan menunjukkan ide kreatif dan inovatif bagi kemanfaatan klien Bapas dserta masyarakat,”tuturnya.

Penyerahan penghargaan. Foto : Istimewa.
Ketua RKBJ Jarot Wahyu Winasis mengungkapkan bahwa penghargaan ini sangat penting untuk mendorong motivasi terhadap strategi dan tujuan di RKBJ agar melahirkan klien pemasyarakatan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, bertanggung jawab, berdaya saing, memiliki jiwa kewirausahaan, kepeloporan dan kebangsaan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.”Dalam kerangka kami ‘Pasti’,”ujarnya. (Eko Purwono).
PURWOREJO (info-jogja.com) - Semakin meningkatnya jumlah penduduk menuntut ketersediaan panagn yang juga selalu harus ditingkatkan. Sementara luas lahan persawahan menyempit karena alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman dan industri. Ketersediaan tenaga kerja yang mau bekerja disawah juga semakin berkurang, kalaupuan masih ada, sebagian besar sudah berusia lanjut.

Permasalahan tersebut  mendorong diterapkannya sistem pertanian  modern dalam usaha memproduksi beras, dengan mengaplikasikan peralatan dan mesin pada setiap tahap kegiatan produksi beras, mulai dari pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan sampai panen dan pengolahan pasca panen.

Pemerintah tak henti merangsang penggunaan alat mesin untuk menciptakan swasembada beras nasional. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya bantuan peralatan yang diberikan kepada masyarakat petani, baik berupa traktor, Transplanter, thresher, Combine Harvester dan Dryer (mesin pengering). Dalam kurun waktu 2010 sampai 2014 bantuan alat mesin yang diberikan pemerintah hanya mencapai 50.000 unit. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir pada tahun 2015 diberikan bantuan alat sebanyak 157.493 unit, tahun 2016 diberikan sebanyak 110.487 unit dan pada tahun 2017 meningkat sebanyak  321.000 unit atau meningkat sampai 600 % jika dihitung sejak tahun 2014.

Semakin banyaknya alat mesin pertanian untuk produksi beras yang diberikan kepada masyarakat petani diharapkan produktivitas beras akan  meningkat. Mengacu pada data Produksi Padi menurut Povinsi (2103-2017) yang dilansir dari laman Kementerian Pertanian (Kementan), jumlah produksi padi dari tahun 2014 hingga 2017 sebaimana dikutip Kementan dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pada tahun 2014 mencapai 70.846.465 ton, tahun 2015 sebanyak 75.397.841 ton, 2016 produksi padi nasional mencapai 79.354.767 ton, sedang 2017 mencapai 82,3 juta ton.

Berlangsungnya workshop Modernisasi Sistem Produksi Beras di Puworejo. Foto : Istimewa.
Berdasarkan data data tersebut memberikan gambaran bahwa peningkatan jumlah alsinta yang diberikan diiringi dengan peningkatan produksi beras. Namun sayangnya data produktivitas beras secara nasional sampai saat ini masih terjadi kesimpang siuran. Data dari Kementan kerap kali dipertanyakan keakuratannya, karena apa yang tertulis pada data tidak sesuai dengan realita di lapangan. Ketidak sinkronan data ini  seringkali memicu  permasalahan terkait ketersediaan stok beras nasional  untuk pengambilan keputusan harus impor beras atau tidak.

Modernisasi pertanian untuk produksi beras melalui penggunaan alsintan dari aspek ekonomi secara signifikan terbukti mampu meningkatkan produktivitas padi / beras dan pendapatan keluarga petani sehingga proses produksi beras bisa lebih efisien. Melalui penggunaan alsintan pada setiap tahap kegiatan produksi, panen dan pasca panen mampu menghemat biaya pengolahan tanah, biaya tanam, biaya penyiangan, dan biaya panen karena sebagian besar tenaga kerja sudah diganti oleh penggunaan alsintan yang jauh lebih efisien.

Berdasarkan informasi dari Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian, I Ketut Kariyasa bahwa Penggunaan traktor roda dua  dan roda empat, mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dari 20 orang menjadi 3 orang/ha, dan biaya pengolahan tanah menurun sekitar 28%, penggunaan rice transplanter mampu menghemat tenaga tanam dari 19 orang/ha menjadi 7 orang/ha sehingga biaya tanam menurun hingga 35%, serta mempercepat waktu tanam menjadi 6 jam/ha. Begitupula penggunaan Combined harvester mampu menghemat tenaga kerja dari 40 orang/ha menjadi 7,5 orang/ha dan menekan biaya panen hingga 30%.

Peserta Workshop. Foto : Istimewa
Akan tetapi sangat disayangkan, bantuan alat mesin pertanian dalam lima tahun terakhir meningkat sangat tajam namun disinyalir pemanfaatan alsintan tersebut belum optimal, hal ini disampaikan oleh Dr.Ir. Hermantoro MS dalam acara Workshop Modernisasi Sistem Produksi Beras di Puworejo, Jawa Tengah, baru-baru ini.

”Berbagai kendala  atau permasalahan terkait yang menyebabkan pemanfaatan alsintan kurang optimal antara lain: pengalokasian jenis, tipe alsintan kurang sesuai dengan kondisi spesifik lahan dan tidak tepat sasaran, proses seleksi penerima hibah alsintan belum memperhatikan tingkat kesiapan SDM dan kondisi kelembagaan Gapoktan serta terbatasnya jumlah tenaga pendamping maupun penyuluh yang cakap dan mempuyai kemampuan teknis pengoperasian Alsintan,”ungkap dia.

Workshop yang diadakan oleh Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Instiper Yogyakarta ini  dihadiri sekitar 30 orang dari berbagai instansi diantaranya Badan Ketahana Pangan dan Penyuluhan Propinsi DIY, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo,  Dinas Perindustrian, Dinas Pertanian Kabupaten Purworejo serta perwakilan sejumlah Gapoktan.

Pada kesempatan tersebut turut hadir narasumber Ir, Imam Rosadi selaku  produsen RMU Cimoni, menyampaikan tentang teknologi pengolahan pasca panen padi dari gabah menjadi beras dengan menggunakan Rice Milling Unit yang terpadu serta modern, dengan input berupa gabah kering giling akan dihasilkan beras dengan tiga kualitas beras yang sudah terpisahkan berupa beras kepala, beras pecah dan menir (pecah halus).

Pada akhir workshop dilanjutkan dengan mengunjungi dan menyaksikan Pembukaan dan Running Test  Rice Milling Unit yang menempati Gudang SRG di Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah.

Artikel ditulis oleh: Nuraeni Dwi Dharmawati