Select Menu

Template Information

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

WISATA ALAM

Berita

Wisata

IKLAN BARIS

CAFE

KULINER

BAKERY

TOUR AND TRAVEL

Yogyakarta (info-jogja.com) Rombongan Komisi IV DPR RI yang dipimpin oleh Siti Hediati Haryadi, SE., atau akrab disapa Titiek Soeharto menggelar acara Fokus Group Discussion (FGD) Rancangan Undang-Undang (RUU) Tentang Perubahan Atas Undang-Undang nomor 12 tahun 1992, tentang Sistem Budidaya Tanaman Kamis, (27/04/2017). Hadir pula pimpinan Komisi IV DPR RI,yakni Daniel Johan SE., dari Fraksi PKB, Viva Yoga Mauladi. M.Si. dari Fraksi PAN serta Dr. Ir. H. E. Herman Khaeran, M.Si., dari Partai Demokrat selaku Ketua Panja RUU Sistem Budidaya Pertanian termasuk jajaran pejabat Eselon I dan II Kementerian Pertanian, dipimpin Sekretaris Jendral Kementan, Hari Priyono. FGD digelar untuk mendengarkan, menampung dan menghimpun masukan dari berbagai pihak baik akademisi dari sejumlah universitas, pakar pertanian, termasuk masyarakat secara umum. Adanya masukan ini diharapkan dapat membantu Komisi IV DPR RI bersama Kementerian Pertanian dalam penyusunan dan penyempurnaan draft RUU Perubahan Atas Undang-Undang nomor 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. Herman Khaeran mengatakan, revisi UU nomor 12 tahun 1992 ini dilakukan karena melihat adanya pergeseran serta perubahan paradigma pembangunan yang menuntut adanya perubahan dalam pengelolaan sistem budidaya pertanian di Indonesia. Terlebih UU nomor 12 tahun 1992 saat ini dinilai sudah tidak relevan lagi digunakan sebagai acuan dasar pengelolaan pertanian. Menurut Herman, RUU Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjuan yang telah melewati dua kali pembahasan ini, diharapkan akan lebih melindungi petani dengan berbagai aspek terkait pertanian. Mulai dari perencanaan budidaya pertanian, penggunaan lahan, perbenihan dan penanaman, pengeluaran pemasukan tumbuhan, benih bibit dan hewan, pemanfaatan air, perlindungan dan pemeliharaan pertanian, panen dan pasca panen, hingga sarana produksi dan prasarana budidaya pertanian. Ita
Logo KAI 


SLEMAN (info-jogja.com) - Presiden Kongres Advokat Indonesia (KAI), Tjoetjoe Sandjaja Hernanto, SH. MH. CLA. CIL   siang ini akan memberikan pembekalan kepada para calon Advokat KAI di Hotel Indoluxe , Sleman , DIY , Jumat (28/4/2017) .

Seperti dilansir oleh   kai.or.id ,  diagendakan panitia      pada malam harinya  Presiden KAI  akan  memimpin langsung sidang terbuka DPP KAI , dengan agenda Pengangkatan Advokat KAI Yogyakarta.

Pengambilan sumpah Advokat dilaksanakan pada Sidang Terbuka Pengambilan Sumpah Advokat di Pengadilan Tinggi Yogyakarta pada 3 Mei 2017.

Penulis : Eko Purwono
-
Pengertian Keselamatan Pasien di Rumah Sakit
Patient safety telah menjadi isu global yang paling penting. Kita dapat dengan mudah melaporkan tuntutan atas kejadian medical error. Keselamatan pasien atau patient safety merupakan sistem yang ada di rumah sakit yang membuat asuhan pasien yang lebih aman meliputi pengkajian resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan, dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan resiko dan mencegah cidera akibat kesalahan karena melaksanakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (Kemenkes, 2011). 

Jumlah Kejadian Medical Error Di Dunia dan Indonesia
Institute of medicine (IOM) di Amerika tahun 1999 melaporkan bahwa medical error merupakan salah satu penyebab kematian dan kesalahan terbesar. Jumlahnya adalah 44.000 sampai dengan 98.000 kasus kematian disebabkan oleh medical error di US Hospital setiap tahunnya. Angka kematian ini lebih tinggi dari pada angka kematian yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, kanker, dan HIV AIDS. Terdapat beberapa istilah dalam keselamatan pasien tentang insiden yang merupakan setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada pasien, terdiri dari KTD (kejadian tidak diharapkan), KNC (kejadian nyaris cidera), KTC (kejadian tidak cedera) dan KPC (kejadian potensial cedera). Menurut WHO 2004 angka kematian KTD dia amerika, inggris, denmark, dan australia memiliki rentang 3,2 – 16,6 %.

Di Indonesia sendiri data mengenai angka  kejadian tidak diharapkan  KTD atau  kejadian  nyaris  cedera  (Near  Miss)  masih  langka  (Depkes,  2008). Laporan  IKP  oleh  KKP-RS (Komite Keselamatan Pasien-Rumah  Sakit) di Indonesia pada  bulan  Januari-April  2011,  menemukan  bahwa  adanya  pelaporan  kasus  KTD  (14,41%) dan KNC  (18,53%)  yang disebabkan  karena proses atau prosedur klinik  (9,26 %), medikasi (9,26%),  dan  Pasien  jatuh  (5,15%). (KKP-RS. Laporan Insiden Keselamatan Pasien. Jakarta: Badan Pusat Statistik; 2011.)

Program Keselamatan Pasien di Dunia dan di Indonesia

    Kejadian di atas mengharuskan tenaga kesehatan di rumah sakit harus menjunjung budaya keselamatan / safety culture demi keselamatan pasien di rumah sakit.  Beberapa  upaya  membangun  budaya  keselamatan  pasien  pada  skala  internasional  dengan  membuat  kebijakan  terkait keselamatan  pasien  antara  lain  Joint  Commission  on  Accreditation  of  Healthcare Organization  (JCAHO) di Amerika, sejak 2007 menetapkan penilaian tahunan terhadap budaya keselamatan sebagai target  keselamatan pasien.  National Patient Safety Agency (NPSA)  di  Inggris  mencantumkan  budaya  keselamatan  sebagai  langkah  pertama dari”Seven Steps to Patient Safety” (Kachalia, 2013). Program keselamatan di Indonesia terdapat dalam PERMENKES No.1691/MENKES/PE/VIII/2011  tentang  keselamatan  pasien  rumah  sakit. 

Arti Budaya Keselamatan / Safety Culture   
    Budaya  keselamatan pasien dibangun dengan diubahnya pandangan blaming culture / budaya menyalahkan menjadi  safety  culture. Standart keselamatan pasien menjadi pendukung safety culture di rumah sakit. Standar keselamatan pasien tersebut terdiri dari tujuh standar meliputi hak pasien, mendidik pasien dan keluarga, keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan, penggunaan  metoda-metoda  peningkatan  kinerja  untuk  melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien, peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien, mendidik staf tentang keselamatan pasien, komunikasi  merupakan  kunci  bagi  staf  untuk  mencapai  keselamatan pasien.

Mendidik staf tentang keselamatan pasien menjadi point 6 dalam standart keselamatan pasien di RS. Kriteria standart keselamatan nomor 6 tersebut berisi 3 kriteria dengan salah satu kriterianya adalah setiap  rumah  sakit  harus  menyelenggarakan  pelatihan  tentang kerjasama  kelompok  / teamwork  guna  mendukung  pendekatan interdisipliner dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien. Upaya mencapai teamwork tersebutlah yang menjadi pokok dari masalah Rumah sakit. Jumlah pasien yang cukup banyak menjadikan tenaga kesehatan memiliki waktu yang sempit dalam memberikan asuhan kepada pasien. Tim kesehatan harus mampu memberikan asuhan yang terbaik bagi pasien dengan kolaborasi tim yang solid. Tiap tiap profesi kesehatan haru mampu menjadi promotor dalam kolaborasi pemberian asuhan, sehingga tiap profesi kesehatan harus mampu mempromosikan interdisiplinary round/kolaborasi. 

Peran Perawat Dalam Kolaborasi / Interdisiplinary Round Untuk Mewujudkan Budaya Keselamatan / Safety Culture
Dalam interdisiplinary round atau kolaborasi tim ini, posisi perawat diharapkan menjadi promotor karena perawat adalah tenaga kesehatan yang 24 jam berada disamping pasien. Perawat harus mampu berkolaborasi (menempatkan diri untuk dipimpin dan memimpin) diri yang mencakup menjaga prinsip autonomy  (hak pilihan) pasien, dan pemberi asuhan keperawatan / care giver yang merupakan tugas utamanya.

Penulis:
1. Dr. Elsye Maria Rosa (Pembimbing)
2. Ns. Naylil
3. Ns. Lunggung
4. Ns. Adi
5. Ns. Ratih

Magister Keperawatan UMY

img(c):klimg.com

-

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, berdampak pada segala aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam bidang kesehatan. Informasi yang dimiliki masyarakat tentang berbagai berbagai masalah kesehatan dan cara penanganan serta pencegahannyapun dapat diakses dengan mudah dari media informasi yang jenisnya beragam, hanya dengan memilki ponsel cerdas serta jaringan internet masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan informasi kapanpun dan dimanapun mereka berada.

Paparan informasi kesehatan yang begitu tinggi dari media informasi ini, mau tidak mau mengharuskan tenaga kesehatan memiliki pengetahuan yang mempuni untuk menjawab pertanyaan masyarkat yang semakin hari semakin kritis. Sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di rumah sakit, mau tidak mau perawat harus mulai berbenah meng-upgread ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk dapat memberikan informasi yang tepat serta dapat menjadi patner untuk konsultasi pasien.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Svean H, et all ( 2012) tentang kepuasan pasien dengan konsultasi keperawatan di klinik reumatologi rawat jalan menunjukkan pasien yang mengalami inflammatory arthritides merasa puas dengan konsultasi yang di berikan oleh perawat di klinik rawat jalan tersebut. Penelitian ini menjadi salah satu bukti bahwa penting bagi perawat untuk memiliki pengetahuan yang tinggi sebagai salah satu cara meningkatkan kepuasan pasien.

Pengetahuan yang baik juga di butuhkan untuk mewujudkan Safety Atitute bagi profesi keperawatan. Safety Atitute ini penting untuk meningkatkan Patient Safety di rumah sakit. Telah banyak kasus yang menunjukkan terjadinya medical errors serta kejadian  infeksi yang didapat oleh pasien di rumah sakit yang disebabkan oleh kurangnya Safety Atitute yang dimilki oleh tenaga kesehatan termasuk perawat.

Data yang di terima oleh California Department of Public Health tahun 2015 melaporkan sekitar 19,847 kejadian infeksi terjadi di rumah sakit. Hasil surveillance menunjukkan penyakit terjadi karena infeksi infeksi di rumah sakit adalah  Clostridium difficile diarrheal infections (CDI), central line-associated bloodstream infections (CLABSI), bloodstream infections due to methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA-BSI), vancomycin-resistant enterococci (VRE-BSI), dan surgical site infections (SSI) yang meliputi 29 tipe prosedur pembedahan. Di Indonesia sendiri belum ada data yang di publikasi secara luas oleh dinas kesehatan ataupun kementerian kesehatan mengenai jumlah kejadian infeksi yang di dapatkan pasien saat berada di rumah sakit, baik itu karena prosedur operasi maupun tindakan infasive lainnya.

Dalam AMN Healthcare (2016) disebutkan ada 6 bentuk tindakan yang dapat dilakukan oleh perawat dalam mewujudkan Patient Safety di rumah sakit :

1.    Mendukung adanya Safety Culture di Rumah sakit
Budaya keselamatan pasien ini sangat penting bagi perawat dalam rangka memperbaiki medical error dan tindakan membahayakan lainnya untuk pasien, kita memang tidak bisa menghilangkan keselahan 100% dalam subuah tindakan, namun setidanya dengan membudayakan keselematan pada pasien ini, bisa meminimalkan adanya kejadian tidak diinginkan ataupun kejadian nyaris terjadi. Dibutuhkan komitmen bersama anatar tim kesehatan untuk mewujudkan Safety Culture ini, sehingga semua tim bertanggung jawab untuk memberikan keselamatan pada pasien di rumah sakit

2.    Komunikasi yang baik
Komunikasi yang baik yang dimaksudkan di sini adalah perawat harus dapat berbicara jika mereka mengamati sesuatu yang tidak aman akan terjadi pada pasien, peralatan tidak bekerja dengan baik ataupun saat membutuhkan bantuan untuk memindahkan pasien. Komunikasi yang baik juga di perlukan saat pergantian shift antar perawat, untuk memberikan informasi sejelas-jelasnya tentang kondisi pasien saat di operkan ke tim lainnya.

3.    Lakukan perawatan dasar dan ikuti checklist
Perawatan dasar adalah tindakan sederhana namun mulai jarang dilakukan, dikarena kesibukan perawat melakukan tindakan delegatif yang bukan merupakan tindakan mandiri keperawatan. Salah satu contoh tindakan perawatan dasar yang sederhana namun sangat bermanfaat adalah perawatan mulut yang dilakukan dengan baik dan sesuai prosedur dapat mengurangi resiko pneumonia.

4.    Libatkan pasien anda

Keluarga dan pasien harus dilibatkan dalam proses perawatan di rumah sakit, diajak diskusi tentang tentang proses keperawatan dan proses penyakit yang dialami, sehingga ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada pasien, keluarga diharapkan mampu memanggil bantuan secara cepat, selain itu jika pasien dan keluarga merasa perawatan yang diberikan tidak sesuai dengan kondisi pasien maka akan sangat penting bagi keluarga untuk melaporkan hal tersebut pada perawat. Hal tersebut akan membuat pasien menjadi nyaman

5.    Belajar dari insiden dan near misses
Menurut Rosemary Gibson yang juga seorang penulis utama Wall of Silence :The Untold Story (Kesalahan Medis itu membunuh dan melukai jutaan orang Amerika), dia mengatakan untuk mencegah kesalahan kita perlu memahami apa yang menyebabkan kesalahan itu terjadi. Gibson menyarakan harus dibuat diagram (diagram tulang ikan) untuk menganalisis penyebab masalah serta mengungkap semua fakta tentang incidence yang terjadi, untuk itu perawat perlu diberikan pelatihan untuk mempelajari peruses tersebut.

6.    Melibatkan diri
Perawat yang punya ketertarikan dalam Patient Safety harus melibatkan diri dalam organisasi rumah sakit yang ada hubungannya dengan itu, sehingga dapat membantu mengontrol adanya insiden atau kejadian near misses yang ada di rumah sakit.

Berdasarkan hal tersebut diatasa perawat sebagai populasi terbanyak dan menjadi garda terdepan dalam berhadapan dengan pasien, harus terus belajar tentang standar keselamatan pasien di rumah sakit , tidak hanya itu pihak managemen rumah sakit juga harus menjadikan safety atitute tersebut menjadi safety culture di lingkungan rumah sakit, agar keselamatan pasien dapat terjaga dan terjamin sampai keluar dari rumah sakit.

Penulis:
1. Dr. Elsye Maria Rosa (Pembimbing)
2. Ns. Chily
3. Ns. Ikhe
4. Ns. Ida
5. Ns.Ferdi

Magister Keperawatan UMY

img(c):klimg.com
-
YOGYAKARTA (info-jogja.com) -Meskipun sempat bersitegang antara pemohon KMT A Tirtodiprojo   eksekusi  dengan pihak termohon  Siek Biek Giok atau Ny Ayem , Juru sita Pengadilan Negeri Yogyakarta tetap melakukan eksekusi sebagian bangunan ruko di Jalan Kyai Mojo 45 Yogyakarta, Kamis (27/4/2017).
 
Sebelum pelaksanan eksekusi Tim juru sita PN Yogyakarta Heri Prasetyo didampingi  Panitera Tri Mandoyo SH membacakan  penetapan eksekusi terhadap tanah dan bangunan yang dikeluarkan Ketua PN Yogyakarta , Dwi Tomo SH tertanggal 13 Oktober 2016.


Turut hadir pula kuasa Hukum termohon , Jeremias Lemek SH dan pihak pemohon yang diwakili pengacaranya, Eko Widianto SH.

Putusan PN Yogyakarta tanggal 30 Oktober 1990 tersebut telah berkekuatan hukum tetap hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung.

Ny Ayem (baju hitam ) di tengah proses eksekusi.
Dalam putusan  mengabulkan sebagian permohonan penggugat dan menyatakan secara hukum bahwa penggugat pemilik sah di bawah akte nomor 72 dan kuasa akte nomor 73 tanggal 25 April 1990 yang dibuat di hadapan notaris Daliso. Selain itu  penggugat  secara hukum  adalah pemilik sah obyek sengketa seluas 221,4 meter persegi.

Disela proses eksekusi  Eko Widiyanto mengatakan bahwa pihaknya telah  melakukan upaya damai dengan Ny Ayem. “Terpaksa kita lakukan sita  eksekusi pengosongan ini karena termohon  tidak memiliki etika baik,” ujarnya.

Sementara  Ny Ayem mengklaim bahwa seluas 130 m2 adalah tanah miliknya  yang disahkan hingga MA. ” Saya beli 130 meter persegi ,pembelian pertama  kepada Ny  Wongso Sukarto alias Loso alias Painah waris tunggal Ibu  Juminem  isteri dari  bapak Marto Ngatijan,  kedua dengan waris  Marto Ngatijan atau Juminem disaksikan oleh saksi yang sekarang masih hidup,” sebutnya kepada wartawan.


Pembongkaran dibantu  satu unit alat berat berupa exsavator hingga malam hari.
Lanjutnya,  sisa tanah tersebut   disewa  dari ahli waris  hingga 16 sep  2036 .” Makanya kalau jual beli harus ditulis , apakah ini pekerjaan hukum yang betul, saya tidak malu di eksekusi , justeru saya merasa bangga sudah tua begini masih sempat berupaya  menegakkan hukum,” tegas pemilik Toko Kembang Api.

Ditambahkan Jerimas Lemek, dirinya masih   mempertanyakan kepemilikan tanah seluas 221,4 meter persegi  oleh Tirtodiprojo. Padahal  ahli waris pemilik tanah  tidak merasa menjual kepada kepadanya, jadi  kepemilikan atas tanah tersebut cacat hukum .

“Awalnya Sudjanto meminjam uang kepada KMT A Tirtodiprojo sebesar Rp 10 juta , saat itu pernah dikembalikan Namun kedua ahli waris Wongso, Sudjanto dan Ellyningsih mengaku kaget karena  tanahnya sudah beralih ke  KMT A Tirtodiprojo,” sesalnya.

Dirinya tetap menghargai  dan mematuhi putusan ini namun tetap berharap kepada  PN Yogyakarta untuk lebih teliti.“ Semua inin tetap kita hargai namun tolonglah jangan sampai tanah hak milik klien kami hilang,”pinta dia.

Penulis : Eko Purwono.
-